Sejak awal tidak tampak upaya-upaya sistematis untuk mengembangkan industri yang mengolah bahan mentah. kalaupun ada, cuma terbatas pada beberapa industri saja seperti industri gula. produk-produk perkebunan seperti karet dan teh yang dikembangkan indonesia lebih di peruntukkan bagi pasar luar negeri ketimbang pemenuhan pasar dalam negeri.

oleh karena itu, wajar saja kalau pola ketergantungan center-periphery dalam struktur perdagangan luar negeri indonesia cukup melekat. hal ini pulalah yang mengakibatkan ketidakstabilan penerimaan ekspor indonesia, yang pada gilirannya kerap menganggu keseimbangan eksternal di dalam perekonomian indonesia. apa gerangan yang membuat perekonomian indonesia di terpa oleh krisis yang sangat dalam dan hingga kini tidak kunjung terpadamkan? tidak perlu teori-teori canggih untuk menjelaskannya. mari kita menggunakan salah satu prinsip dalam kehidupan yang paling sederhana. sehatkah suatu rumah tangga yang selama 30 tahun selalu mengalami ketekoran anggaran atau belanja dalam rumah tangganya? jawabannya tegas: sangat tidaksehat, bahkan merupakan suatu kemustahilan kecuali bagi rumah tangga yang invalid atau yang sangat tidak normal sehingga harus diselamatkan atau ditopang terus menerus oleh pihak lain ataupun pemerintah lewat program santunan sosial.