Kemiskinan, pembangungan dan pengrusakan lingkungan alam


Di samping perselisihan tentang masalah perdagangan dan hutang ada perdebatan lain, tentang pembangunan macam apa yang mesti dijalankan di negeri-negeri miskin. Banyak aktivis di Seattle mempunyai pendapat yang cukup tegas dalam hal ini: menurut mereka, negeri-negeri dunia ketiga seharusnya diizinkan mengadakan industrialisi agar dapat mengejar negeri-negeri barat. William Greider menulis tentang perlunya "pembangunan industri di negeri-negeri di mana upah-upah masih rendah", sedangkan Juliette Beck dan Kevin Danaher ingin "melindungi industri-industri domestik yang muda sampai mereka mampu bersaing di arena internasional". Danaher bahkan melihat Korea Selatan sebagai ekonomi teladan karena "selama dasawarsa 1960-an sampai dengan 1980-an, meski terjadi bertahun-tahun represi, namun secara ekonomi negeri itu cukup sukses." Sikap Waldon Bello tidak jauh berbeda: dia menganut sebuah strategi industrialisasi untuk dunia ketiga berdasarkan proteksi, yang sudah lama berasosiasi! dengan UNCTAD (sebuah badan PBB) dan pemimpinnya Raul Prebisch, walau Waldon Bello memang mengakui bahwa "model integrasi ke dalam ekonomi global [versi UNCTAD] perlu dikaji kembali".
Namun sejumlah aktivis lain telah mempertanyakan pendekatan industrialisasi ini. Mereka mencari suatu "jalan alternatif selain model yang mendominasi selama ini, yang berorientasi ke pertumbuhan cepat berdasarkan sektor ekspor." Aliran alternatif ini sering didukung oleh para aktivis yang membela hak-hak masyarakat adat, atau yang berfokus pada masalah lingkungan alam seperti Vandana Shiva. Mereka menunjukkan ke akibat-akibat buruk yang disebabkan oleh proses industrialiasi di dunia ketiga (dan di barat dan bekas negeri "Komunis" pula): pemiskinan, pengrusakan lingkungan alam, pengganguan gaya hidup tradisional, dan lain sebagainya. Seperti dicatat oleh Susan George dalam kritiknya terhadap model-model ekonomi, "paradigma dominan" berarti "banyak manusia yang kehilangan tanah dan harus meninggalkan desa mereka, menyaksikan anak-anak mereka mengidap penyakit parah atau kelaparan; bekerja 14 jam per hari dengan gaji yang merana atau tidak bekerja sama sekali; meringkuk atau! disiksa atau dibunuh, jika berani membuka mulut atau berusaha memperjuangkan nasib yang lebih baik."
Namun mereka yang menolak paradigma lama jarang berhasil menyajikan paradigma alternatif yang memadai. Ahli genetika Mae-Wan Ho misalnya, menggabungkan sebuah kritik yang brilian terhadap tehnik-tehnik modifikasi genetik dengan usulan untuk kita kembali kepada "cara-cara pertanian tradisional". Vandana Shiva melukiskan konsekwensi buruk pendekatan agrikultur yang dipakai oleh perusahaan-perusahaan multinasional raksasa di India, tetapi kurang memperhatikan bahwa pertanian tradisional berarti penindasan yang mengerikan bagi jutaan petani kecil dan buruh tani, terutama kaum perempuan. Selain itu, cara-cara tradisional tidak mampu menghasilkan cukup bahan pangan untuk melayani seluruh populasi India yang bertumbuh dengan begitu cepat selama beberapa dasawarsa ini.
Membalas sebuah pertanyaan tentang hal tersebut seusai makalah Reith Lecture-nya, Vandana Shiva hanya mengeluh tentang "pertumbuhan populasi yang tidak bisa diteruskan begitu saja", dan menyalahkan pembangunan:
Jika anda menyimak datanya, jumlah pendukuk India tetap stabil sampai tahun 1800. Penjahan Inggeris dan penggusuran orang dari tanah mereka membuat populasi kita muliai bertumbuh. Sedangkan laju pertumbuhan populasi di Inggeris sangat mempercepat setelah tanah yang dulu dimiliki secara berkelompok menjadi tanah swasta … pertumbuhan populasi adalah hasil dari pembangunan yang tak henti-hentinya.
Tapi sebenarnya, kemiskinan menjadi cukup umum di pedesaan India sebelum kedatangan para penjajah Inggeris. Ahli sejarah ekonomi Irfan Habib telah membuktikan keadaan miskin para penduduk rural di zaman Mogul. Dan di Inggeris ada sejumlah periode jauh sebelum munculnya kepemilikan swasta di pedesaan di mana rakyat menderita kelaparan, misalnya pada tahun-tahun pertama abad ke-14. Yang merasa kangen pada zaman-zaman dulu sebetulnya sedang merindukan cara-cara hidup yang agak merana, dan tatanan-tatanan sosial yang (walau bukan kapitalis) juga merupakan masyarakat berkelas, penuh dengan jerih payah, kelaparan, pendindasan dan penghisapan.
Lebih penting lagi, pertanian tradisional tidak sanggup untuk memberi makanan kepada seluruh populasi dunia yang diperkirakan jumlahnya akan melebihi 12 milyar orang dalam waktu 30 tahun. Metode-metode "Revolusi Hijau" patut dikecam secara tajam karena penggunaan intensif pestisida, merambatnya hubungan kapitalis di pedesaan, dan masalah lingkungan alam. Namun demikian, metode-metode itu memang berhasil meningkatkan hasil panen sampai India bisa menjamin kebutuhan fisik minimal bagi kebanyakan rakyat tanpa banyak impor. Bahkan Vandana Shiva sendiri harus mengakui "keberhasilan terbatas Revolusi Hijau", walau hanya sepintas lalu. Betul, rakyat tidak banyak beruntung: namun hal ini disebabkan karena "Revolusi Hijau" dijalankan dalam konteks sosial yang timpang. Bukan metode-metode ilmiah yang berdosa, melainkan struktur-struktur kapitalis. Kita memang harus menggunakan metode-metode modern, tetapi dalam sebuah konteks sosial yang progresif.
Para pengamat yang mengecam model-model pembangungan kapitalis sering berpendapat, kita harus beralih ke produksi dan penggunaan lokal. Tetapi kalau kita hanya menggantungkan pada sumber-sumber daya setempat saja, akibat-akibatnya sering buruk juga. Model produksi lokal biasanya disertai paceklik lokal pula, setiap kali kita dilanda oleh cuaca yang tidak bersahabat atau hama-hama yang merusak panen. Tehnik-tehnik modern yang memungkinan pengiriman bahan pangan dari satu daerah atau negeri ke daerah atau negeri yang lain telah menyebabkan paceklik tidak lagi terjadi di banyak tempat. Jika masih terjadi di tempat-tempat lain, itu bukan karena orang di satu negeri seharusnya tidak membeli bahan makanan dari luar negeri. Paceklik itu terjadi karena distribusi global dijalankan demi kepentingan kaum pemilik modal bukan demi kepentingan manusia.
Ada sejumlah negara yang sudah lama bergantung pada ekspor tertentu, contohnnya Kuba yang bergantung pada ekspor gula. Seandainya kita semua kembali ke penggunaan hasil panen lokal dan menolak produk ekspor itu, rakyat Kuba akan mati. Kita hidup dalam sebuah sistem global yang bukan hasil proses "globalisasi" 2-3 dekade ini, melainkan sudah berkembang sejak abad ke-16. Sifat-sifat buruk dari sistem yang ada tidak bisa dihilangkan dengan mengisolir diri kita dari dunia luar, melainkan kita harus mengambil alih sumber-sumber daya yang ada di seluruh dunia, agar bisa digunakan untuk membebaskan umat manusia dari sistem kapitalis.
Para lawan model pembangunan modern terkadang mengajukan satu argumen lagi yang sangat jelek. Menurut mereka, model ini harus ditolak bukan karena memaksa orang melakukan pekerjaan keras yang tak ada henti-hentinya. Sebaliknya, mereka mengeluh bahwa model ini "kurang padat kerja". Misalnya lembaga penelitian Environment Resarch Foundation mencatat sebagai salah satu kelemahan sistem produksi yang sedang diterapkan, bahwa "manusia kehilangan pekerjaan ketika mesin-mesin dipergunakan yang mengganti pekerja-pekerja dan kerbau-kerbau", seolah-olah pekerjaan kasar merupakan nasib yang baik, dan manusia tak urung menderita bila jatah pekerjaan kasar tidak mencukupi bagi semua orang. Tentu saja para pekerja harus melawan PHK. Tetapi dalam sebuah tatanan sosial yang progresif, kita memang akan dapat membangun mesin yang membebaskan orang dari pekerjaan semacam itu, sambil menjamin penghasilan yang lebih tinggi untuk si pekerja. Sekarang ini sistem sosial memang berlum bersifat de! mikian, namun itu hanya membuktikan bahwa sistem sosial tersebut harus diganti. Tidak berarti, pekerjaan kasar adalah lebih baik daripada penggunaan mesin. Seperti gurau Brendan Behan: "Kalau pekerjaan keras begitu baik, kenapa kaum kaya tidak merebut semua pekerjaan itu buat diri mereka sendiri?"