problem Klasik Kesenjangan Ekonomi
|
| PERSOALAN kesenjangan ekonomi atau tidak meratanya distribusi pendapatan sudah menjadi persoalan klasik di Indonesia. Di sejumlah kota besar, kesenjangan itu bahkan sangat mencolok. Penarik gerobak sampah ikut berdesakan di sejumlah jalan yang sedang macet, berdampingan dengan mobil berharga ratusan juta hingga miliaran rupiah. Pemandangan lainnya, si miskin di sebuah perempatan jalan sedang memohon sedekah dari sopir atau penumpang mobil. Karena raungan mesin kendaraan bermotor, permohonan si miskin itu belum tentu bisa didengar mereka yang berada di dalam mobil tertutup. |
| Itulah gambaran kemiskinan. Tidak meratanya distribusi
pendapatan atau kekayaan selalu menempatkan mereka yang tidak beruntung
atau tidak memiliki akses menjadi kelompok miskin. Di Indonesia,
persentase kelompok terakhir ini cukup besar, sekitar sebelas persen
dari total jumlah penduduk. Upaya klasik bertahun-tahun memerangi
kemiskinan belum membuahkan hasil menggembirakan. Intinya, saat ini
pertumbuhan melambat, kesenjangan ekonomi meningkat. Inilah situasi yang
terjadi saat ini. Tahun ini laju pertumbuhan ekonomi hanya sekitar
4,8%, satu persen lebih rendah dari prediksi awal tahun. Perlambatan ekonomi membengkakkan pengangguran dan penduduk miskin. Pada periode yang sama, segelintir warga Indonesia meraih peningkatan kekayaan akibat peningkatan nilai investasi. Berbagai analisis menyebutkan, laju pertumbuhan ekonomi 2016 tak jauh beda. IMF (Dana Moneter Internasional) merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi global 2016 dari 3,6% ke 3,4%. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan diperkirakan hanya 5,1%, di bawah asumsi makro pada APBN 2016 sebesar 5,3%. Apapun kondisi ekonomi global serta prediksi lembaga dan pakar, Indonesia harus memacu pertumbuhan hingga di atas enam persen tahun depan. Tanpa pertumbuhan tinggi, kesenjangan ekonomi seperti tercermin pada rasio gini yang sudah mencapai 0,42 akan kian melebar akibat ledakan angka pengangguran dan kemiskinan. Upaya memacu laju pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan harus menjadi komitmen para penyelenggara negara, baik di pemerintahan, legisltif maupun yudikatif, pusat hingga daerah. Para elite politik jangan hanya sibuk memperdagangkan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan finansial pribadi dan kelompok. Lebih Serius Kasus perburuan rente seperti masalah Freeport jangan terulang lagi. Para elite politik di DPR dan parpol jangan hanya mengejar kekuasaan, melainkan harus lebih mengedepankan kepentingan rakyat. Isu yang diangkat menjadi pansus oleh anggota dewan mestinya isu yang menyangkut kesejahteraan rakyat seperti lapangan kerja, upaya pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi. Jatuhnya harga komoditas memukul ekonomi Kalimantan dan Sumatera. Pertumbuhan ekonomi di berbagai provinsi di Kalimantan tahun ini umumnya minus, sedangkan di Sumatera hanya dua-tiga persen. Pertumbuhan ekonomi di Sulawesi agak lumayan, sekitar empat persen. Laju pertumbuhan ekonomi yang sedikit baik terjadi di Jawa yakni sekitar lima persen karena kontribusi industri manufaktur. Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan ekonomi di atas tujuh persen karena jasa pariwisata. Kondisi ini menunjukkan era komoditas sudah berlalu dan kemungkinan besar takkan kembali lagi. Untuk bisa mengejar pertumbuhan ekonomi di atas enam persen pada 2016 dan tujuh persen pada 2017, Indonesia harus lebih serius dan sistematis mendorong kemajuan industri manufaktur dan pariwisata. Letak geografis, kondisi demografi, alam dan budaya Indonesia sangat menopang pengembangan industri dan pariwisata. Di bidang industri, Indonesia masih undercapacity, sedangkan negara-negara maju mengalami overcapacity. China, sesama negara pasar berkembang, pun sudah overcapacity dan kondisi ini menguntungkan Indonesia. Jika infrastruktur lebih siap dan iklim investasi lebih baik, investasi asing akan mengalir ke Indonesia. Akan banyak pabrik industri pengolahan yang direlokasikan ke Indonesia. Industri tekstil, sepatu, elektronik dan otomotif sangat prospektif untuk dibangun di Indonesia. Selain biaya tenaga kerja masih relatif murah dan harga energi bersaing, Indonesia juga merupakan pasar yang besar. Pemerintah hendaknya bisa menangkap peluang relokasi industri dari Eropa, AS, Jepang, Korsel, Taiwan dan China. Meski diberikan label sunset industry dan fooloose industry, manusia yang semakin sejahtera justru semakin membutuhkan berbagai jenis pakaian dan alas kaki yang baik dan modis. Untuk menghasilkan pakaian dan alas kaki yang baik juga dibutuhkan inovasi teknologi. Dengan mengembangkan industri ini, Indonesia tak hanya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, melainkan juga pemerataan. Industri tekstil dan alas kaki menyerap banyak tenaga kerja. Kemajuan teknologi ditandai dengan inovasi di bidang elektronik. Aktivitas manusia di berbagai lini kehidupan kini menggunakan elektronik. Dari bangun pagi hingga tidur, manusia menggunakan elektronik, baik di rumah, mobil, kantor maupun tempat rekreasi. Salah satu yang menonjol adalah elektronik untuk telekomunikasi seperti handset. Ini semua bisa diproduksi di Indonesia karena negeri ini memiliki banyak insinyur yang bisa diarahkan untuk mengembangkan industri elektronik. Pemerintah sudah menetapkan sepuluh daerah tujuan wisata unggulan untuk mendongkrak jumlah wisman dan perolehan devisa. Jika tahun ini jumlah wisman sepuluh juta dengan devisa US$ 10 miliar, pada 2019 jumlah wisman ditargetkan 20 juta dan devisa US$ 20 miliar. Target ini terlalu rendah dilihat dari potensi yang dimiliki. Jika sepuluh daerah tujuan wisata unggulan ini, plus tujuan wisata yang sudah berkembang seperti Bali dan Batam, dibangun dengan lebih sistematik dan terpadu, jumlah wisman bisa menembus 30 juta dengan devisa US$ 50 miliar pada 2019. Di bidang wisata maritim, Indonesia tiada tara. Labuan Bajo misalnya, salah satu tujuan wisata prioritas dan gateway menuju Taman Nasional Komodo, empat tahun akan datang mampu menyedot wisman hingga 1,5 juta. Selain melihat buaya, pelancong bisa menikmati keindahan 170 pulau di perairan seluas 175.000 hektare. Setelah berenang, snorkling, diving dan melihat keindahan terumbu laut, turis bisa ke wilayah daratan dan laut Flores lainnya untuk menikmati alam dan budaya lokal. Industri dan pariwisata menjadi solusi bagi Indonesia untuk meraih pertumbuhan di atas enam persen pada 2016 dan tujuh persen pada 2017. Indonesia akan mampu meraih laju pertumbuhan di atas tujuh persen sekaligus memperkecil kesenjangan ekonomi lewat pembangunan industri dan pariwisata. Tenaga kerja di sektor pertanian perlu digeser ke sektor industri dan jasa yang memberikan nilai tambah tinggi. Kita harus banyak belajar dari problem klasik ekonomi yang dialami bangsa ini di masa lalu. Tanpa upaya untuk terus belajar mengatasi kesenjangan ekonomi, problem klasik dimaksud akan terus menimpa perjalanan bangsa ini. |
First
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
New..