Pola Pembangunan UMKM Menurut Wilayah Pedesaan dan Perkotaan

Di dalam sebuah negara, perbedaan-perbedaan dalam pola transisi di dalam kelompok UKM, yakni antara pedesaan dan di perkotaan. penyebab utamanya berkaitan dengan perbedaan-perbedaan dalam pembangunan ekonomi,sosial,dan budaya. dalam perbedaan karakteristik, sejumlah studi menunjukkan bahwa UMI terutama pengrajin-pengrajin tradisional, seperti pandai besi, pengukir, dan pengrajin lainnya, relatif lebih penting di pedesaan dan mereka lebih banyak dari kategori unit usaha satu orang (tanpa pekerja). sedangkan UKM khususnya, cenderung mendominasi perkotaan. pekerja untuk periode jangka pendek dan sekaligus sebagai tempat pelatihan dan pekerja yang di gaji adalah komponen-komponen yang relatif lebih penting dari total kesempatan kerjandi UKM perkotaan, sedangkan UMI di pedesaan lebih bergantung pada anggota keluarga dari pemilik usaha/pengusaha sebagai pekerja. selain itu, di daerah pedesaan, pangsa terbesar dari kesempatan kerja di industri manufaktur.
Kegiatan-kegiatan non pertanian paru waktu mencapai puncaknya pada saat tidak ada kegiatan di sektor pertanian diluar musim tanam panen. Liedholm (1973) berpendapat bahwa di pedesaan pengusaha-pengusaha mikro dan kecil memiliki perbedaan-perbedan dalam latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja yang substansial dibandingkan dengan perkotaan. perbedaan dalam orientasi pasar juga kelihatan nyata. beberapa studi menemukan bahwa perusahaan-perusahaan di pedesaan tidak terlalu berorientasi pasar, baik untuk output maupun input, kondisi seperti ini menciptakan lebih banyak kesempatan bagi UMKM perkotaan untuk memperluas usahadan melakukan diversifikasi pasar khususnya UMKM perkotaan yang melayani pasar bagi segmen berpenghasilan tinggi bisa tumbuh pesat.
Lagi pula, desa-desa yang lokasinya jauh atau secara geografis terisolasi dari ekonomi perkotaan, perusahaan-perusahaan lokal kebanyakan memproduksi barang-barang tradisional dengan elastisitas pendapatan yang rendah atau bahkan negatif, untuk pasar-pasar lokal yang kecil dan terutama untuk segmen penduduk berpenghasilan rendah (Mazumdar, 1976). dengan perbedaan-perbedaan karakteristik dan lingkungan yang telah dibahas diatas, UMKM perkotaan bisa menghadapi berbagai masalah, tetapi juga peluang-peluang yang berbeda dengan yang dihadapi oleh UMKM di pedesaan. maka bisa di perkirakan bahwa proses pembangunan ekonomi dalam bentuk peningkatan pendapatan per kapita atau perubahan permintaan di pasar akan member dampak yang berbeda terhadap UMKM di perkotaan dengan pedesaan.
Walaupun hubungan antara besarnya unit usaha dan tingkat pembangunan ekonomi telah di ungkapkan oleh sejumlah peneliti lewat analisis mereka terhadap tahap-tahap pembangunan , literatur teori yang ada mengenai bagaimana UMKM akan di pengaruhi oleh kenaikan pendapatan rill per kapita sebagai suatu indikator dari tingkat atau proses pembangunan ekonomi hingga saat ini relative masih terbatas. satu faktor yang bisa menjelaskan kenapa di banyak negara berkembang yang pembangunannya sudah lebih maju, banyak UMI bisa selamat dan bahkan tumbuh menjadi usaha-usaha yang lebih besar walaupun mendapat persaingan ketat dari UK, UMB, dan barang-barang impor, serta kebijakan pemerintah yang tidak pro mereka, adalah keahlian spesialisasi khusus yang dimiliki pengusaha di UMI.