Kapitalisme Golongan Menengah
Perkembangan perspektif dan pendekatan pada
masalah politik Indonesia tidak hanya dibatasi oleh ketidakmampuan ilmu politik
tradisional dan dirumitkan oleh peran epistemologi, ideologi dan sikap para
pengamat itu sendiri, tetapi juga oleh kompleksitas kenyataan Indonesia. Sebab
itu tentunya sangat sulit menunjukkan secara pasti dan menganalisa struktur:
apakah sebenarnya yang salah dalam studi politik Indonesia.Menyadari bahwa sangatlah sederhana dan secara
intelektual berbahaya untuk menyatakan segala kesulitan dalam studi politik
Indonesia bersumber pada keterbatasan ilmu sosial dan kompleksitas Indonesia,
tulisan ini berpendirian, bahwa pemecahan sementara--dengan semangat untuk
membuka dan menghindari stagnasi intelektual-haruslah dikejar.
Perkembangan studi politik
Indonesia menunjukkan, bahwa walaupun mereka yang menggunakan perspektif satu
dimensi--seperti analisa struktur masyarakat, tesis kesinambungan, pendekatan
kultural atau analisa kesejarahan yang mendetail--menyadari sepenuhnya kekuatan
masing-masing pendekatan, dan memang memberikan sumbangan yang berarti dalam
memahami politik Indonesia, namun perspektif satu dimensi itu telah gagal
menangkap realitas Indonesia yang multi-dimensional.
Analisa politik Indonesia yang sengaja mementingkan struktur sosial dan
ekonomi, belum bcrkembang. Dalam banyak studi, kesadaran akan pentingnya
kondisi-kondisi struktural memang secara sporadis nampak. tetapi belum satu pun
berhasil memberikan kerangka analisa yang solid, yang mampu menjelaskan
akibat perubahan struktur sosial dan ekonomi terhadap banyak kejadian dalam
sejarah politik Indonesia. Pendekatan politik ekonomi, khususnya yang
menekankan pembentukan kelompok dalam hubungannya dengan penetrasi ekonomi ke
dalam ekonomi Indonesia, nampaknya memiliki harapan sebagai suatu pendekatan
pada masalah yang saling berhubungan antara struktur sosial dan ekonomi pada
perubahan dan konflik politik.
Kedua, secara struktural kapitalisme
pinggiran selalu akan menciptakan ekonomi yang berat sebelah dan berorientasi
ke luar, di mana kegiatan-kegiatannya terpusat pada bidang-bidang ekstraktif
dan ekspor, sehingga tidak mendorong terciptanya industrialisasi.
Kegiatan-kegiatan golongan menengah memperkuat kedudukan ekonominya, dan juga
negara -- dalam memperoleh pendapatannya -- ditentukan oleh kondisi-kondisi
kapitalisme pinggiran. Sebagai suatu struktur sosial dan ekonomi, kapitalisme
pinggiran merupakan kondisi penentu bagi negara dan golongan menengah untuk
mempertahankan survival ekonominya.
Pada analisa selanjutnya bisa
dilihat bahwa negara dan golongan menengah akan terlibat dalam argumentasi dan
pembenaran ideologis dan kultural untuk mempertahankan eksistensi serta
keselamatan ekonomi mereka dalam kondisi kapitalisme pinggiran.
Untuk melihat negara sebagai suatu
yang bersangkutpaut dengan struktur sosial dan ekonomi serta ideologi, maka
kita bisa memandangnya sebagai suatu institusi umum yang imperatif sifatnya,
yang demi keselamatan ekonominya harus menguasai sebagian sumber ekonomi
nasional melalui sistem perpajakan dan membelanjakannya sesuai dengan
kebijaksanaan umum ekonomi. Dengan demikian negara memiliki relevansi ekonomi.
Struktur pendapatannya tergantung pada struktur ekonomi dan juga merefleksikan
struktur ekonomi yang dominan.
Pembelanjaan negara, yang secara
potensial memiliki akibat pada seluruh perekonomian, juga sebagian besar
ditentukan oleh cara negara mengumpulkan pendapatannya. Tetapi dalam kegiatan
ekonominya, negara tidak bergerak dalam ruangan yang secara politik bebas.
Masyarakat sebagai keseluruhan menuntut penjelasan yang bisa diterima, sehingga
negara terpaksa mempertahankan suatu tingkat legitimasi. Dipandang secara
demikian sebenarnya negara berdiri di antara dua kutub yang mestinya selalu
seimbang: di satu pihak harus memenuhi kebutuhannya untuk menguasai sebagian
dari sumber-sumber ekonomi dan mengontrol pembelanjaannya, tetapi di pihak lain
secara terus menerus harus memberikan pembenaran ideologis demi legitimasi
politiknya. Dengan begitu negara nampak sebagai lembaga yang erat hubungannya
dengan struktur sosial dan ekonomi serta ideologi.