1. Gejolak Kurs Mengungkap Persoalan
Gejolak nilai tukar rupiah sejak bulan juli 1997 sepatutnya kian membuka mata-hati kita terhadap berbagai persoalan mendasar yang menghadang ekonomi indonesia sejak sekian tahun lamanya. ulah para spekulan bisa saja dijadikan kambing hitam. namun, teramat naif kalau akar permasalahan ditimpakan seluruhnya kepada mereka, senaif kalau kita mengatakan bahwa kemerosotan rupiah dipicu semata-mata oleh tindakan-tindakan spekulatif, kitapun akan kehilangan jejak seandainya persoalan cuma di pandang sebagai fenoomena regional yang berawal dari kejatuhan nilai baht Thailand.
kita tidak menafikkan faktor eksotiknya saham-saham dan mata uang asia tenggara yang di golongkan sebagai emerging market, sehingga mengundang para pelaku pasar uang mengadu nasib di kawasan ini. namun, sulit pula untuk mengatakan bahwa gejolak nilai tukar semata-mata merupakan persoalan atau fenomena moneter. bagaimanapun, sektor moneter umumnya dan sektor keuangan khususnya merefleksikan keadaan sektor real. sektor keuangan tidak akan pernah lepas kaitan sama sekali dengan sektor real. karena pada hakikatnya sektor keuangan merupakan penopang dinamika sektor real. kecuali kalau memang uang tidak lagi sekedar alat tukar (medium of exchange), alat hitung (unit of account), dan atau penyimpan nilai (store of value), melainkan juga telah menjelma menjadi komoditi yang di perdagangkan seperti barang dan jasa pada umumnya.
Di sejumlah negara asia tenggara terutama indonesia dan kecuali singapura sejak awal pembangunannya hingga sekarang, masih saja mengekalkan diri sebagai perekonomian yang "lebih besar pasak daripada tiang". konsumsi bangsa-bangsa di asia tenggara lebih tinggi daripada kemampuan produksinya. impor barang dan jasa lebih besar daripada ekspor barang dan jasa. memang tidak ada salahnya mengundang modal asing dan meminjam dari luar negeri. namun, sudah siapkah kita menerima kenyataan kalau dana yang masuk itu untuk tujuan keuntungan jangka pendek? sudah siapkah perekonomian kita menerima konsekuensi bahwa kita tidak bisa berbuat banyak mengendalikan lalu lintas modal luar negeri itu?
perlu dianggap bahwa arus modal masuk tersebut justru harus bisa dijadikan stimulan agar perekonomian lebih produktif, sehingga lambat laun terbebas dari kondisi lebih besar pasak daripada tiang. inilah hakikat dari kemandirian. bukannya kemandirian dengan jalan memenuhi segala kebutuhan dengan cara memproduksi sendiri, melainkan meningkatkan produksi barang dan jasa yang kita bisa melakukannya palinga baik berdasarkan keunggulan komparatif yang kita miliki saat ini dan di masa mendatang. dengan begitu, kita bisa mengekspor dan dengan hasil ekspor itu kita bisa bisa mengimpor segala kebutuhan yang tidak bisa kita produksi sendiri secara efisien.
2. Mengungkap Pokok Permasalahan
Sektor moneter tidak pernah dan tidak akan pernah lepas kaitannya dengan sektor real. karena, bagaimanapun, keberadaan sektor moneter dengan segala perangkat kebijakan dan berbagai lembaga keuangan yang menopangnya tidak bisa berdiri sendiri. sehebat dan secanggih apapun sektor ini, pada dasarnya merupakan fasilitator bagi sektor real. seperti telah disinggung diatas, jika dalam kenyataannya memang kedua sektor ini telah mengalami lepas kaitan, maka umat manusia tinggal menunggu kehancuran peradaban atau paling tidak terjebak hidup dalam kegemerlapan artifisial dengan segala konsekuensinya.
Sistem yang ada sekarang nyata-nyata mendorong perilaku konsumtif dan bermewahan dan menyeret perekonomian untuk tumbuh secara instan. hanya negara-negara yang cerdik, dengan perangkat kelembagaan ekonomi dan politik yang mantaplah, yang bisa mengeliminasi dampak-dampak negatif dari gelombang pergerakan finansial global.
perilaku bak lintah yang haus darah dan tidak terbatas pada para aktor finansial dunia sekaliber george soros, tetapi juga telah menghinggapi pebisnis lokal. hampir semua imperium bisnis di indonesia telah melakukan beragam rekayasa finansial sehingga memungkinkan mereka menjelma dalam bentuk konglomerasi yang sosoknya belakangan ini kian digugat oleh masyarakat luas. paling tidak, sektor real yang sehat dapat meredam gejolak finansial dan perilaku tidak produktif atau artifisial. dengan begitu, kebijakan moneter dan keberadaan pemerintah bisa diarahkan lebih efektif untuk meredam fluktuasi tajam di dalam perekonomian. pemerintah bisa menitikberatkan pada fungsi monitoring yang efektif atau arus finansial yang masuk dan keluar, sehingga pada akhirnya mengurangi tindakan coba-coba. ini bukan langkah mundur, karena yang dilakukan bukanlah pengekangan.
Akhirnya, apapun yang hendak dilakukan sepatutnya mengacu pada prinsip bagi kesejahteraan rakyat dan keadilan. bukannya ikut-ikutan, misalnya dalam kasus pelepasan rentang intervensi kurs karena semua negara tetangga telah menempuh langkah serupa. kita berbenah bukannya sekedar untuk menghadapi era globalisasi atau AFTA tahun 2002, kita melakukan privatisasi dengan menjual saham BUMN bukan dalam rangka mencari dana untuk membayar utang, tetapi seharusnya untuk membuat BUMN itu lebih efisien.kedaulatan rakyat harus ditegakkan.!
Gejolak nilai tukar rupiah sejak bulan juli 1997 sepatutnya kian membuka mata-hati kita terhadap berbagai persoalan mendasar yang menghadang ekonomi indonesia sejak sekian tahun lamanya. ulah para spekulan bisa saja dijadikan kambing hitam. namun, teramat naif kalau akar permasalahan ditimpakan seluruhnya kepada mereka, senaif kalau kita mengatakan bahwa kemerosotan rupiah dipicu semata-mata oleh tindakan-tindakan spekulatif, kitapun akan kehilangan jejak seandainya persoalan cuma di pandang sebagai fenoomena regional yang berawal dari kejatuhan nilai baht Thailand.
kita tidak menafikkan faktor eksotiknya saham-saham dan mata uang asia tenggara yang di golongkan sebagai emerging market, sehingga mengundang para pelaku pasar uang mengadu nasib di kawasan ini. namun, sulit pula untuk mengatakan bahwa gejolak nilai tukar semata-mata merupakan persoalan atau fenomena moneter. bagaimanapun, sektor moneter umumnya dan sektor keuangan khususnya merefleksikan keadaan sektor real. sektor keuangan tidak akan pernah lepas kaitan sama sekali dengan sektor real. karena pada hakikatnya sektor keuangan merupakan penopang dinamika sektor real. kecuali kalau memang uang tidak lagi sekedar alat tukar (medium of exchange), alat hitung (unit of account), dan atau penyimpan nilai (store of value), melainkan juga telah menjelma menjadi komoditi yang di perdagangkan seperti barang dan jasa pada umumnya.
Di sejumlah negara asia tenggara terutama indonesia dan kecuali singapura sejak awal pembangunannya hingga sekarang, masih saja mengekalkan diri sebagai perekonomian yang "lebih besar pasak daripada tiang". konsumsi bangsa-bangsa di asia tenggara lebih tinggi daripada kemampuan produksinya. impor barang dan jasa lebih besar daripada ekspor barang dan jasa. memang tidak ada salahnya mengundang modal asing dan meminjam dari luar negeri. namun, sudah siapkah kita menerima kenyataan kalau dana yang masuk itu untuk tujuan keuntungan jangka pendek? sudah siapkah perekonomian kita menerima konsekuensi bahwa kita tidak bisa berbuat banyak mengendalikan lalu lintas modal luar negeri itu?
perlu dianggap bahwa arus modal masuk tersebut justru harus bisa dijadikan stimulan agar perekonomian lebih produktif, sehingga lambat laun terbebas dari kondisi lebih besar pasak daripada tiang. inilah hakikat dari kemandirian. bukannya kemandirian dengan jalan memenuhi segala kebutuhan dengan cara memproduksi sendiri, melainkan meningkatkan produksi barang dan jasa yang kita bisa melakukannya palinga baik berdasarkan keunggulan komparatif yang kita miliki saat ini dan di masa mendatang. dengan begitu, kita bisa mengekspor dan dengan hasil ekspor itu kita bisa bisa mengimpor segala kebutuhan yang tidak bisa kita produksi sendiri secara efisien.
2. Mengungkap Pokok Permasalahan
Sektor moneter tidak pernah dan tidak akan pernah lepas kaitannya dengan sektor real. karena, bagaimanapun, keberadaan sektor moneter dengan segala perangkat kebijakan dan berbagai lembaga keuangan yang menopangnya tidak bisa berdiri sendiri. sehebat dan secanggih apapun sektor ini, pada dasarnya merupakan fasilitator bagi sektor real. seperti telah disinggung diatas, jika dalam kenyataannya memang kedua sektor ini telah mengalami lepas kaitan, maka umat manusia tinggal menunggu kehancuran peradaban atau paling tidak terjebak hidup dalam kegemerlapan artifisial dengan segala konsekuensinya.
Sistem yang ada sekarang nyata-nyata mendorong perilaku konsumtif dan bermewahan dan menyeret perekonomian untuk tumbuh secara instan. hanya negara-negara yang cerdik, dengan perangkat kelembagaan ekonomi dan politik yang mantaplah, yang bisa mengeliminasi dampak-dampak negatif dari gelombang pergerakan finansial global.
perilaku bak lintah yang haus darah dan tidak terbatas pada para aktor finansial dunia sekaliber george soros, tetapi juga telah menghinggapi pebisnis lokal. hampir semua imperium bisnis di indonesia telah melakukan beragam rekayasa finansial sehingga memungkinkan mereka menjelma dalam bentuk konglomerasi yang sosoknya belakangan ini kian digugat oleh masyarakat luas. paling tidak, sektor real yang sehat dapat meredam gejolak finansial dan perilaku tidak produktif atau artifisial. dengan begitu, kebijakan moneter dan keberadaan pemerintah bisa diarahkan lebih efektif untuk meredam fluktuasi tajam di dalam perekonomian. pemerintah bisa menitikberatkan pada fungsi monitoring yang efektif atau arus finansial yang masuk dan keluar, sehingga pada akhirnya mengurangi tindakan coba-coba. ini bukan langkah mundur, karena yang dilakukan bukanlah pengekangan.
Akhirnya, apapun yang hendak dilakukan sepatutnya mengacu pada prinsip bagi kesejahteraan rakyat dan keadilan. bukannya ikut-ikutan, misalnya dalam kasus pelepasan rentang intervensi kurs karena semua negara tetangga telah menempuh langkah serupa. kita berbenah bukannya sekedar untuk menghadapi era globalisasi atau AFTA tahun 2002, kita melakukan privatisasi dengan menjual saham BUMN bukan dalam rangka mencari dana untuk membayar utang, tetapi seharusnya untuk membuat BUMN itu lebih efisien.kedaulatan rakyat harus ditegakkan.!